Jumat, 09 Mei 2014

PUISI:Kita berkata tentang rindu



Kita berkata tentang rindu

Kita berkata tentang rindu
Aku berkata: aku merindu dalam diam
Lalu kau menimpali: ataukah diam-diam kau sedang merindu?
Aku berkata: bisa jadi. Karena kenangan telah menjelma jelaga.
Dan aura rindu menggamit raga. Ah...
Kau menjawab: memang selalu tersisa disetiap pertemuan yang diakhiri pergi: rindu
Aku berkata:
Sesak berganti rindu. Biarlah kenangan itu kusimpan dalam beranda hati.
Meski terkadang buncahnya meradang.
Kau berkata: mengapa tak kau gubah kata menjadi syair tentangnya
Akupun berkata lagi: akan kulakukan demi dia:rindu
Sesaat hening tercipta
Lalu kau dan aku hanyut dalam genangan: rindu


Dedicated to TOWR LLW. special thax to daeng Hamid
Syahrir al-Ghifary
Mahasiswa pascasarjana prodi ELS 2012
Bidang kaderisasi FLP ranting UNHAS

PUISI: ABSURD



ABSURD

Bingung
Kudapati pikiranku bercabang seribu
Dan hatiku berdialog dengan mauku
Dialog tanpa judul
Absurd!
Semestinyalah ku terasing dalam riuhnya dunia
Karena kereta sang pialang prestasi telah menderukan mesin
Melaju menandingiku
Yang asyik-masyuk mematut diri
Di depan cermin retak
Pun ia yang betah menekuri malas
Ah, hidup!
Bilakah segala keinginan menyata?
Akankah peri kehidupan
 kan selamanya tentang keinginan-keinginan yang sulit dicapai?
Hidup berarti kau menggantung harapan
Pada pohon masa depan dan malam yang berjelaga
Di sana kau mengguratkan cerita
Pada nadi waktu yang tak bosan berdenyut
Kelak celotehmu akan menjadi penerang
Bagi tunas yang sementara merangkak
Menggapai secercah cahaya ufuk pagi
Mari menyapa alam dengan teriakan penuh ambisi
 Dan kepalan tangan-tangan Tuhan.



Syahrir Al-Ghifary
Mahasiswa pascasarjana Program Studi English Language Studies (ELS)
Universitas Hasanuddin angkatan 2012
Anggota bidang kaderisasi FLP ranting Unhas.
Bisa dihubungi di:
FB: Syahrir Alghifary Neo
Twitter: Syah_Syahrir
Blog     : Syahriralghifary.blogspot.com
e-mail    : Syahriralghifary85@gmail.com

PUISI: Kenduri Cinta



Kenduri cinta
Lama ku mengembara
Dalam lautan tanya dan bingung
Menerabas rimba gelap nan curam,
Menapaki aral dan onak fatamorgana
Hingga dirimu singgah,
Memesona jiwa tandusku
Menawan semangat hidup yang kian menipis
Dikau melukis asa di punggung hatiku
Meracuni segala khayal dan fikirku
Memasung imaji dan rasaku
Memenjara harga diri dan rasa maluku
Ku tak berdaya!
Sungguh!
Meski ku bisa bangkit,
Namun sihirmu mengalir dalam tiap inci nadi dan arteriku
Ku takluk dalam kemahadigdayaanmu
Kenduri cinta ini akan tetap meriah nan merekah
Mengabadi, walau hanya sepasang jiwa yang menghadirinya,
Kau dan aku.


Syahrir Al-Ghifary
Sekret FLP Unhas, 20 Mei 2013

PUISI: Hujan cahaya dalam genangan rindu



Hujan cahaya dalam genangan rindu

Hujan cahaya dalam genangan rindu
Bermandikan kenangan tentang kata bersayap
Gemuruh cinta
terbang bersama cerita kita.
Kuntum bunga yang kau kirim padaku
Masih kusimpan rapi
Pada beranda hati
Kuingin kau menyaksi
Sebelum ranum berganti layu
Derita tak mesti nestapa
Cerita tak mutlak sesiapa
Karena rasa telah purna
Pada jiwa yang nelangsa
Matahari marah padaku
Karena biasnya terhalang jelaga
Lalu angin berbisik merindu
Tentang lagu sang pujangga
Riak peluh meluruh
Pada kerontang sukma
Cita berdenyang
Pada nadi waktu:
Takdir kita bersama
Genapkan saja ceritamu
Karena ganjil menjalariku
Kapas putih itu
Bukanlah aku
Pun bukan kamu.
Jalan kupu-kupu.
Tak lagi berpunya.
Bianglala telah berganti.
Noktah ini tak sanggup kuhapus.
Sendiri
Gemintang cahya pendarkan bahagia
Mayapada menggelar ceria
Kita lakoni hikayat dunia
Harap ia menjelma legenda.
Hakikat tak kuraih
Bila dnding makrifat menjulang
Kubutuh cahya
Sebab terang tertutup gulita

Syahrir al-Ghifary
Mahasiswa pascasarjana prodi ELS 2012
Bidang kaderisasi FLP Ranting Unhas


PUISI: Dan air mata takkan cukup



Dan  air mata takkan cukup

Dahulu,
Dahulu sekali
Kala tangan-tangan kita masih berjabat
Dan mata kita masih saling memancarkan cahya teduh
Dirimu adalah angin kehidupan dalam sahara landai hatiku
Namun,
Janji hati yang kita semai bersama
Kini berganti sembilu beraroma duka
Selaksa nila telah kau titikkan dalam bejana nuraniku
Kau pergi
Bersama dia,
Dia
Peri dusta berwujud kasih itu
Hambar,
Bahkan kini hidupku berganti pahit
Mengapa,
Mengapa semua tak terjemahkan
Oleh kata dan rasa?
Mungkinkah hatiku telah kelu dan berkalang pusara?
Ataukah ini adalah
Sensasi stadium akhir
dari luka cinta yang kau tinggalkan?
Duhai…
Andai kutak menggubris senyum manismu kala itu
Mungkin luka menganga
tak kan bersarang dalam diri
Kesakitanku amatlah pedih
Melebihi luka yang terjamah air cuka
Dan air mata takkan cukup
Mengumbar segala.
kini
biarkan ku berdamai
dengan racun cinta yang kau hadiahkan
agar ku selalu terkenang
pahit empedu rindu khianatmu

pondok madinah, 05 desember 2013 (hadiah untuk diriku)