Sabtu, 29 Desember 2012

INSPIRASI DI bawah siraman AIR TERJUN BULAN



terompet keabadian

bersama TIM ku; TOWR IV FLP UNHAS.
air terjun bulan, Malino


TEROMPET KEABADIAN


DAUNMU BERSAYAP INDAH
MENARI CENTIL DISAPA UDARA
AKARMU BEROTOT TERRACOTA
MENGHUNJAM LANDAI DI BALIK TANAH
BATANGMU MENUNJUK LANGIT
BERDIRI PONGAH MENANTANG BADAI
                                DAN…
                                INILAH PERMATAMU
                                PUTIH SEHASTA BERONGGA INDAH
                                SENYUM RAMAH DI UJUNG BIBIRNYA
                                MENGGODA IMAN KUMPULAN PEMBURU KEINDAHAN
TANAH MALINO MENJAGAMU
TUHAN MENITAHKAN ITU PADANYA
SEBAGAI AYAT PENGINGAT DIRI
AKAN AKHIR EPISODE FANA
HINGGA GERBANG KEABADIAN MULAI TERBUKA
                                BUNGAKU….
                                KAU TERPOMPET KEABADIAN
                                MEKARLAH!
                                ABADILAH!





INDAH JUNTAIMU


BIRU MENGATAPI MEGA
 TITIK PUTIH BERGERAK ANGGUN
BELUKAR HIJAU SEMARAKKAN BUANA
CADAS ALAM MEMAHAT KESAN
DI UJUNG KAKI BUKIT INI
                                TITIAN SERIBU MERAPAT JALI
                                TAPAK LELAH MENJEJAK GONTAI
                                SEMANGAT ITU MEMBULAT PIAS
                                MEMBAKAR ASA YANG KIAN MENIPIS
HARUS SAMPAI!
KARENA SUARA GEMERCIKMU TELAH MENGALUN
DAN INDAH JUNTAIMU TAK TERPERI
SUBHANALLAH!!!!!
LETIHKU TERBAYAR SUDAH
KARENA SYURGA HADIR MENYAPA
                                AIR TERJUN BULAN….
                                SEINDAH NAMAMU
                                KAU MEMPESONAKU
                                DAN HIDUP PUN HARUS KUSYUKURI





BERKARYA ATAU MATI


DIA…
FORUM
FORUM LINGKAR PENA
ITULAH NAMANYA
                                BUKAN KUMPULAN PECUNDANG
                                PUN BUKAN KUMPULAN MANUSIA SUCI
                                HANYA…
                                SEBONGKAH NIAT BERSARANG DI DADA
                                MENEBAR HIKMAH DAN ATSAR
                                DEMI CERAHNYA DUNIA
                                DAN GULITA TERGULUNG RAPI
RIBUAN BERTANDANG
NAMUN TAK SEDIKIT MERANGGAS PIAS
GUGUR DILANDA KEMARAU
ATAU LAYU TERJANGKIT KERONTANG
                                DI JALAN INI…
                                TAK ADA WAKTU JEDA
                                SEMUANYA HARGA MATI
                                PASIF ATAU PROGRESIF
                                ITULAH PILIHANNYA
                                SYURGA ATAU NERAKA
                                ITULAH MAHARNYA
LIHATLAH MEREKA DI SANA
BERLATIH MENGHALUSKAN BUDI
MENEGAKKAN IZZAH, MEMOMPA GHIRAH
MERANGKAI PRASASTI INDAH
DEMI GENERASI TERCERAHKAN
OLEH SINAR PERINDU ILAHI
ANAK-ANAK FLP
TERUSLAH BERGERAK!
ASAHLAH PENA-PENA KEARIFANMU
BENTANGKAN SAJADAH-SAJADAH HIKMAHMU
HINGGA NAFAS AKHIR MENYAPA MEGA
MELUKIS SYAHADAH SYURGA
DI SANA….
PANJI KEMENANGAN TELAH BERKIBAR
DEMI KREDO ABADI
BERKARYA ATAU MATI!



                                                                                      AIR TERJUN BULAN, MALINO 02 DES 2012

CERPEN BUDAYA: Festival Ma'balendo



FESTIVAL MA’BALENDO

Mark       : I’d like to visit ur home town
Pudding : ohh yeah? When??
Mark       : Next month, also to celebrate new year’s eve in Toraja. I got info there will be Lovely     December in Toraja, right?
Pudding : yeah! Drop in, then. There’s going to be a Festival Ma’balendo, a harvest time celebration in Buntu Barana, my village.
Mark       : Sounds great! Oh, I can’t wait any longer for that moment. Lucy and my Parents are going to join, too. Ok, bye!
Pudding : bye…!
            Laptop kumatikan. Chat singkat tadi membuatku semangat, sekaligus membuatku khawatir. Kubaringkan tubuh lelahku. Kutarik nafas dalam-dalam. Kupejamkan mata. Pikiranku menerawang. Segumpal pertanyaan menggunung di kepalaku. Bagaimana kalau festival Ma’Balendo tidak jadi dihelat? Bagaimana kalau Pak desa dan masyarakat tidak mau mengadakan? Bagaimana kalau…..
Akhhhh………!” teriakku geram. Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Ini adalah perjuanganku. Juga kesempatan untuk memperkenalkan kepada sahabat mayaku dari Inggris, Mark dan keluarganya. Inilah budaya daerahku, Tana Luwu. Biar mereka mengetahui, betapa kayanya negeri ini dengan budaya leluhur. Kupandangi potret di dinding kamarku. Kulihat kembali moment berharga itu. Moment pencapaian prestasi yang luar biasa dalam hidupku, Duta Budaya kampus. Memang masa itu telah usai, setahun yang lalu. Namun euphoria kemenangan itu masih sangat deras kurasakan.
            “Pasti bisa!” Pekikku sembari mengepalkan tinju. Ini adalah moment yang sangat aku tunggu-tunggu. Misi menghidupkan kembali budaya leluhurku, Festival Ma’balendo, harus kulakukan. Masih segar dalam ingatanku kala aku kecil. Festival itu dihelat tiap usai panen padi. Atau paling tidak setahun sekali. Ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Itulah alasan yang kuingat. Aku seperti terlempar jauh ke masa kecilku. Kembali kupejamkan mata. Bayangan hitam berubah menjadi gambaran visual yang semarak. Masyarakat tumpah-ruah. Silaturrahmi erat tercipta di sana. Aneka makanan tradisional tersaji. Warna-warni bendera melambai di lapangan. Tarian Ma’balendo diperagakan dengan lincah oleh tiap tim peserta. Suara tumbukan alu dan lesung membahana dalam harmonisasi indah. Pakaian yang unik. Tawa bahagia yang menggelegar. Doa panjang yang dipanjatkan. Seperti ingin berlama-lama di sana. Namun segala kekhawatiran itu muncul kembali. Tanyaku kembali muncul. Mengapa sejak 10 tahun ini gaung festival itu tak lagi bergema? Semua seakan melupakannya. Mungkinkah karena hasil panen padi yang tidak semelimpah dulu. Mungkinkah karena hama penggerek batang yang melanda perkebunan kakao kami, sehingga festival itu dilupakan? Mungkinkah karena pisang dan sayur-sayuran meranggas oleh hama?
            “Bisa! Bisa! Bisa!” teriakku dalam kamar. Segera kuraih jaket hitam. Kurogoh sakunya. kutemukan kunci motorku. Desing motorku menjerit kencang. Akupun melaju. Sempat kulihat ibuku yang sedang menyirami bunga anyelir dan kembang doa kesayangannya di halaman rumahku.
“Pak Desa!” batinku memulai strategi. Sebutan itu  untuk kepala desa kami. Kupikir dia adalah kunci sukses tidaknya acara ini nantinya.
Assalamu alaikum, ada Bapak?” Tanyaku menyapa Salwa, kembang desa kami. Dia adalah anak semata wayang Pak Desa Mirdan. Daun meniran yang sementara dipetiknya segera diselesaikan. Senyum manisnya mengembang. Ia bergegas menghampiriku.
            Wa’alaikum salam Kak Pudding, Bapak ada di dalam. Lagi sakit!” katanya sembari mempersilahkanku masuk ke rumahnya. Aku kaget mendengarnya. Kulihat ada raut kesedihan di wajahnya. Mungkin karena di dunia ini hanya ayahnyalah tempat bersandarnya. Setahun lalu ibunya meninggal. Stroke. Itu kata dokter. Tapi menurut Puang Makare’, dukun sakti kampung kami, itu bukan penyakit biasa.
hmm….ada unsur magis di dalamnya” katanya. Waktu itu Salwa tidak peduli celotehan beliau. Ibunya segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Belopa. Hingga akhirnya harus dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin, Kota Makassar. Namun belum sampai di sana, ibunya telah meregang nyawa. Jadilah ia gadis piatu yang malang dengan seorang ayah yang sangat disayanginya.
“Bagaimana keadaannya, Pak?” Tanyaku, menyapa ayah Salwa.
Huff……” dia menghela napas panjang. Wajah nanarnya memandangku.
“Perasaanku tidak enak, pikiranku melayang-layang. Aku tak bisa menggerakkan sebelah badanku, persis seperti almarhumah ibunya Salwa, dulu.” Katanya dengan ekspresi wajah nanar.
Tidak lama berselang, datanglah Raihan. Ia adalah ketua Karang Taruna sekaligus ketua Remaja masjid di kampung kami. Entah apa sebabnya hingga dia merangkap dua jabatan sekaligus. Jabatan yang dulu pernah kuemban sebelum periodenya. Aku teringat waktu aku mengalahkan dia dalam beberapa kali event pemilihan. Hingga dia menolak untuk kumasukkan sebagai anggota dalam struktur organisasi itu. Sejak itu dia mulai menjaga jarak denganku. Seperti enggan bekerjasama, begitu. Tapi aku tak merasa telah mengintimidasinya. Itu adalah cerita masa lalu tentang demokrasi di kampung kecil kami.
Assalamu ‘alaikum, Pak! Sudah agak baikan, Pak?”  sapanya kepada Pak Mirdan. Sepertinya dia telah beberapa kali datang menjenguk beliau. Sebelum aku datang, pastinya. Dia tak melirikku sedikitpun. Mungkin masih sungkan denganku, sarjana fresh graduated. Sedang ia tak punya nasib sebaik diriku dalam pendidikan. Hanya sampai SMA. Itulah riwayat pendidikan tertingginya. Dulu, karena takut menantang badai pendidikan, dia memutuskan untuk tetap membajak sawah di kampung. Seperti takut keluar dari comfortable zone. Aku, dengan semangat nekad dan falsafah ibuku, kuberanikan diri menantang badai itu.
“Orang yang menempuh jalan pendidikan akan selalu memiliki jalan keluar dari setiap masalahnya, termasuk masalah biaya,” pesan suci ibuku kala itu. Dan benar saja! Aku telah melewati badai itu selama 4 tahun lamanya. Tak terlalu menakutkan kukira. Di sana kutemukan tangan-tangan Tuhan bekerja.
Yah, seperti yang kau lihat!” jawab pak Mirdan terbata-bata.
“Bapak harus ke rumah sakit, ke dokter yah?” bujuknya. Pak Mirdan menggeleng tak setuju.
“Tidak usah, Kak Ian! Aku telah memanggil Puang Makare’ untuk mengobati Bapak.” Salwa menyela.
“Ehmmm…..!” Sosok nyentrik nan misterius tiba-tiba muncul dengan dehem panjang. Pakaiannya serba hitam, janggut dan kumisnya panjang. Guratan kasar pada wajah tuanya tampak. Ekspresinya berbau mistis. Matanya menatap tajam sekeliling ruangan. Bau kemenyan semburat dari bajunya. Posisi duduknya berada di sebelah kanan kepala Pak Mirdan yang sedang terbaring lemah.
“Darurat!” teriaknya mengagetkan.
Daun Sirikaja Sampoddo’, Tingara Bulan Latuppa’, Bunga Suruga Sesean, kamu!” pekiknya. Telunjuknya mengarah ke aku.
“Kak Pudding yang harus mengambil obatnya,” Salwa menerjemahkan potongan-potongan kalimat dari dukun sakti itu.
“Biar aku saja!” tawar Raihan. Padahal sebelumnya dia adalah orang yang sangat menentang segala hal yang berkaitan dengan Puang Makare’. Entah apa sebabnya.
“Tapi!
“Tiga hari!
Ultimatum Puang Makare’ meninggi, sambil berlalu meninggalkan kami.
“Mohon bantuannya Kak Pudding. Demi ayah Salwa!”
Salwa mengiba. Air matanya tumpah. Dipandanginya wajahku. Juga ayahnya yang sedang terbaring lemah. Aku tak punya pilihan. Tak tega aku melihat Salwa menangis.
“Baiklah! Pagi ini aku akan berangkat!
“Terima kasih, Kak!”
Air matanya diusap. Sebuah senyum manis mengembang disana.
Bergegas kutinggalkan mereka. Sesaat kemudian kukembali dengan tas punggung dan rain coat berwarna hitam.
“Ini bekal buat kakak. Semoga semuanya lancar.”
Sebuah bungkusan plastik diserahkan Salwa padaku. Tanpa membuang waktu, aku pamit. Kulaju motorku. Pikiranku menerawang.
“Demi Salwa, juga Festival Ma’balendo!
Ibuku telah menerangkan perihal obat tadi. Daun Srikaya di Tebing Sampoddo’, Daun Pegagan di air terjun Latuppa dan bunga edelweiss di puncak Sesean, Toraja. Petualangan baru, pikirku.
“Sssssssssssssttttt….”
Ban motorku pecah. Sampoddo’ masih setengah kilo. Apa boleh buat. Kutuntun motorku, sembari mencari tukang tambal ban.
Setelah perjalanan melelahkan, aku temukan tukang tambal ban. Tepat beberapa meter di depanku. Bukit Sampoddo’. Tebingnya telah kelihatan.
Ban motor sudah kelar. Kulanjutkan perjalanan. Tiba di sana, kuparkir di depan salah satu kios penjual jagung yang berjejer rapi di lereng bukit itu. Sejenak kunikmati pemandangan Teluk Bone. Juga beberapa bagian dari Kota Palopo dan perbatasannya dengan Kabupaten Luwu. Indah sekali.
Misi pertama, mencari daun sirsak. Kutekuri jalan setapak yang terjal. Menanjak curam. Pohon Jati dan tanaman perdu disekelilingku. Burung punai dan jalak bermain riang di pokok kesambi.  
“Itu dia!” seruku melihat pohon srikaya. Buahnya belum ada. Namun pokok pohonnya telah besar. Daunnya lebat dan tinggi. Butuh keahlian khusus, memanjat. Kurambati pohonnya. Kuraih beberapa lembar dan segera beranjak menuruni bukit itu.
Mesin motor satria-ku berderu. Latuppa, misiku berikutnya. Tak ada hambatan memasuki Kota Palopo. Perutku juga lumayan kenyang dengan mie seduh plus jagung rebus. Makan siangku sebelum meninggalkan Sampoddo’, tadi.
Kilometer 9 Latuppa. Hawa sejuk mulai menusuk jari-jari tanganku. Motor kuparkir di samping rumah salah seorang warga. Di hadapanku terhampar badan sungai Latuppa. Gemercik air mengalun. Airnya begitu jernih. Bermain di sela-sela bebatuan besar. Pohon pinus, durian dan rambutan yang memerah dengan buahnya berjejer rapi di sepanjang bantaran sungai. Terpaksa kuharus berjalan sejauh 50 kilometer. Akses jalan tak memungkinkan untuk mengendarai motorku. Perkebunan kakao kuterabas. Melewati bebatuan di tepi sungai. Jalan agak sedikit menanjak. Beberapa kali aku terjatuh. Celanaku basah. Biarlah, ini bagian dari perjuangan, kukira. Beberapa air terjun kecil telah kulewati. Dan kini aku tiba di air terjun tertinggi. Tebing batu cadas itu kurambati. Puncaknya kudaki. Ada segumpal kekhawatiran dalam diriku. Takut terjatuh dan tak ada siapapun yang menolong. Tentu saja sangat berbahaya. Permukaan batu yang licin. Ketinggian yang menguras tenaga untuk menggapainya. Tapi dengan tertatih kucapai juga puncaknya.
Tingara Bulan!” seruku sembari berlari kecil menghampiri kawanan tumbuhan pegagan yang tumbuh subur di puncak air terjun itu. Hijau. Segera kupetik dan kupenuhi kantong plastik hitamku dengannya. Misi kedua berhasil. Namun kembali nyaliku harus diuji, menuruni lereng air terjun tadi.
Lelah, namun harus berjalan. Kususuri kembali jalan pulang. Awan hitam telah berarak di mega. Tak lama, gerimis menyapaku. Satu persatu jatuh dari langit. Kawanan kelelawar berebut buah rambutan bermain di pohon-pohon rambutan. Ini memang musim buah rambutan dan durian. Icon  buah dari daerah indah ini. Hoodie rain coat kukenakan. Tak lupa tas kuselubungi dengan rain cover bertulis Avtech. Gelap kini menyapa. Torch light kupasang dikepala. Nyalanya menemaniku menyusuri jalan setapak di bawah perkebunan kakao. Dari jauh cahaya listrik telah kulihat. Di depanku perkampungan itu. Motorku ada disana.
Niat menghabiskan malam di rumah Firman Patawari urung. Temanku itu sedang tak di tempat. Vila-nya kosong. Terpaksa kulewati malam dingin di sebuah teras masjid. Di sampingnya mengalir sungai Latuppa. Suara jangkrik dan gemercik air bersahutan. Seakan sedang memainkan sebuah lagu dalam orkestrasi sederhana. Kabut tipis menutupi perkebunan kakao. Beberapa orang menawariku untuk menginap di rumahnya, namun kutolak. Takut merepotkan. Kupejamkan mata. Dingin merambati tubuhku. Kueratkan kembali tali rain coat-ku. Makan malamku di kedai kecil tadi sedikit membantu menghangatkan tubuh. Segelas wedang jahe, semangkuk mie rebus dengan cabai rawit dua biji didalamnya. Juga beberapa potong kue kering. Bekal bungkusan merah dari Salwa. Senyum Salwa hadir dalam mimpiku. Menghiasi malam yang kian mengikis kalor tubuhku.
Pagi menyapa. Kabut tipis memayungi pepohonan. Burung pipit, jalak dan punai terbang kian kemari. Bermain di ranting pohon cemara. Kokok ayam turut meramaikan pagiku.  Bersahutan membangunkan manusia yang sedang melawan gigil dan kantuk.
Misi berikutnya gunung Sesean. Ini adalah hari kedua. Kupenuhi tangki motorku dengan bahan bakar. Kembali kulaju motorku. Arah jalan ke Toraja kulalui. Pemukiman penduduk kota Palopo berganti dengan hutan pinus. Matahari telah nampak. Sinarnya sedikit menghangatkan. Perutku mulai lapar lagi. Dalam cuaca dingin memang metabolisme tubuh agak cepat, pikirku. Tiba di Puncak, mendekati perbatasan daerah Palopo dan Toraja, kurehat sejenak. Beberapa lapak menyajikan makanan khas. Wajik kacang, wajik ketan, Lemang pulut, arak nira, rambutan, langsat, durian, jagung rebus, sampai madu murni tersedia di sana. Kesempatan untuk wisata kuliner, kukira.
Baje kacang satu dan peong setengah saja.”
 Baje’ sebutan untuk wajik dan peong sebutan untuk lemang pulut. Tak lupa favoritku, semangkuk mie rebus dengan telur setengah matang dan cabe rawit dua biji di dalamnya. Sarapanku ditepi lereng bukit menuju Toraja begitu mengasyikkan. Di depanku terhampar pegunungan hijau. Di ujung sana ada teluk Bone, meski tidak sejelas pemandangan di Sampoddo’. Sebelah selatannya kulihat kubah Masjid Agung dan puncak gereja Santo Mikael. Lambang kota religi Palopo.  Jalanan aspal di bawahku meliuk-liuk bak ular. Sungai pun tampak demikian. Berliku menuruni lereng gunung. Beberapa gumpalan kabut masih berjelaga di atas pepohonan. Udara sejuk terasa namun pelan berganti hangat. Seiring meningginya sang surya. Di ketinggian itu dapat kulihat seluruh Kota Palopo.
Jam menunjukkan angka sembilan. Bergegas kulanjutkan perjalanan. Belum setengah, kukira. Semakin jauh perjalananku, semakin dingin merasukiku. Jalan yang tadinya jelas dihadapanku, kini ditutupi kabut tebal. Pohon cemara yang menjulang tinggi semakin menambah aura mistis perjalananku. Lampu motor kunyalakan. Kuterabas jalan berliku nan buram itu. Sesekali aku berpapasan dengan kendaraan menuju Kota Palopo. Dengan hati-hati, kubulatkan nyali untuk terus menarik gas motorku. Melaju menuju destinasi ketiga, gunung Sesean.
Kini jalanan menurun. Memasuki kawasan Toraja hatiku tambah bersemangat. Gunung Sesean, Kec Sesean Suloara yang terletak di ketinggian 1300 mdpl itu telah pijak. Konon tempat ini masih banyak menyimpan misteri. Dan, benar saja! Di sana kutemukan ritual membangunkan mayat yang menjadi tradisi warga setempat. Ma’nene. Itulah namanya. Mayat hari itu bernama Julius Rante Allo. Usia hidupnya sekitar 90 tahun. Telah diawetkan selama 80 tahun. Anggota keluarga mengganti pakaiannya, sembari memainkan tari ratapan yang disebut Ma’badong. Setelah itu, jenasah dibaringkan kembali ke dalam peti. Selanjutnya disimpan pada liang batu di tebing-tebing gunung yang telah dipahat.
Konon mayat orang Toraja selalu dikuburkan di liang batu. Tradisi itu erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat setempat. Mereka meyakini leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Tak layak jasad orang yang meninggal dikuburkan di dalam tanah. Bagi mereka hal itu dapat merusak kesucian bumi yang berdampak pada kesuburan tanah. Demikian hasil wawancaraku dengan penduduk setempat. Meski awalnya takut, namun kuberanikan diri melihat sebagian prosesi tersebut.
            Kembali kulanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Sesean. Puncak Gunung Sesean berada di ketinggian 2100 mdpl. Setelah melewati sembilan pos, akhirnya aku bisa sampai juga. Perjalanan yang sangat melelahkan. Kubuka tasku. Kuraih sebotol air minum yang kuisi ulang di pos enam. Tiba-tiba aku berteriak histeris.
            Bunga Suruga! Sungguh elok dirimu!”
            Kucoba meraih beberapa tangkai di tepi tebing di atas puncaknya. Sangat memacu adrenalin-ku. Tanpa sengaja, botolku terjatuh oleh tiupan angin kencang. Berguling menyusuri sisi cadas tebing dan akhirnya kulihat bertengger jauh di bawahku. Pupus sudah harapanku satu-satunya untuk penawar dahaga.
            Tak kusia-siakan tenaga yang tersisa. Aku beranjak menuruni puncak bukit. Tubuhku gemetar. Dehidrasi akut! Bibirku pecah-pecah dan kering. Wajahku pucat pasi. Langkahku berat sekali. Pandanganku mulai berkunang-kunang.
            Untunglah ada sepasang Bule’ backpacker asal Canada melintas. Aku diberi air minum dan ransum. Istirahat sejenak, tubuhku segar kembali. Kuucapkan terima kasih kepada mereka. Ternyata mereka juga ingin melihat puncak gunung Sesean.
***
            Perjalanan pulang tak memiliki hambatan berarti. Hanya sesekali istirahat dan mengisi bahan bakar. Tiba di rumah Pak Desa Mirdan, kulangsung disambut oleh senyuman manis Salwa. Disana juga telah hadir dukun nyentrik yang telah mendaulatku mengambil obat dari tumbuhan di tempat nun jauh, Puang Makare’.
            Rebusan pegagan diminumkan ke Pak Mirdan. Tubuhnya diberi asap sauna hasil pembakaran arang dan bunga edelweisss. Lalu dimandikan dengan rebusan daun sirsak. Ritual itu dilakukan selama tiga hari.
            Seminggu kemudian Pak Mirdan telah pulih kembali. Ternyata pengobatan mistis ala Puang Makare’ sangat manjur. Belakangan aku mengetahui bahwa ketiga jenis tumbuhan itu berfungsi melancarkan peredaran darah. Alasan mengapa harus diambil di tempat yang jauh belum kudapat.
            Mungkin agar khasiatnya terjaga, maka harus diambil di tempat yang alami dan terjaga dari polusi!” batinku mengira-ngira.
            Panitia telah dibentuk. Hari pelaksanaan pun sudah dekat. Sisa satu hari. Persiapannya sudah rampung. Namun masalah baru muncul.
            “Hentikan saja niatmu untuk melaksanakan Festival Ma’balendo Pudding! Syirik!” pekik Raihan di depan massa yang dibawanya. Rupanya ia telah menghasut beberapa warga.
            “Alasannya?” tantangku.
            “Nanti pasti akan ada Tedong Bulan yang disembelih. Dan itu pasti dimulai dengan ritual bakar kemenyan. Tentunya orang yang akan kau daulat untuk melakukan semua itu adalah Puang Makare’, bukan? Kalau bukan syirik, itu apa namanya?”
            “Betul! Bubarkan!” sorak pendukung Raihan.
            “Siapa yang akan menghentikan Festival Ma’balendo, akan berhadapan dengan saya!” Sanggah Pak Mirdan dengan mimik serius. Mendengar itu, kerumunan tadi semburat ke rumah masing-masing. Raihan pun demikian.
            “Lanjutkan saja!”
            “Baik, Pak! Tedong bonga-nya telah siap. Wakaf Pak Ahmad. Dua ekor!” jawabku berapi- api.
            “Bagus!”
            Lapangan telah disesaki oleh kerumunan manusia. Bendera berwarna-warni telah berkibar melambai-lambai. Segala macam buah-buahan dan hasil kebun tersaji. Ada yang diolah menjadi masakan. Namun ada yang dalam bentuk segar. Yang membuat Mark dan keluarganya takjub adalah ketika Tari Ma’balendo dimulai. Lelah perjalanan dan baru tiba pagi ini, tak membuat mereka malas membaur. Dengan bergaya khas pelancong, mereka menebar sapa dan senyum. Di sana, Beberapa pasang pria dan wanita mengenakan pakaian adat. Dominan warna hitam. Masing masing menenteng alu di hadapan lesung. Bergantian menumbukkkan alu ke lesung yang berisi beberapa helai padi. Hasilnya, tarian eksotik dari Tana Luwu, Ma’balendo. Ma’Balendo menurut Pak Mirdan berarti membuat suara gaduh. Namun gaduh yang mengalun harmonis. Beberapa pasang anak-anak juga memainkan dua pasang tongkat yang ditabrakkan satu sama lain. Sesekali dibuka sehingga membentuk formasi segi empat. Dua orang melompat masuk dan sesaat kemudian menghindari jepitan tongkat tadi. Luar biasa!
Sempat kuteringat apa yang di khawatirkan Raihan. Dan kutemukan jawabannya. Puang Makare’ tetap membakar kemenyannya, namun Raihan yang didaulat menyembelih tedong bonga. Kini dua ekor kerbau putih berharga puluhan juta itu telah meregang nyawa. Tak berapa lama, dagingnya telah berada di kuali besar dengan berbagai jenis resep masakan. Kulihat Mark dan keluarganya tak hentinya mengabadikan moment itu. Setidaknya sebelum bertolak ke Toraja, menyambut Lovely Desember.
Impianku telah terwujud. Inilah wujud syukur kami, masyarakat Tana Luwu. Kemeriahan itu diakhiri dengan makan bersama dalam bingkai kekeluargaan. Sungguh harmonis.


kapurung, kuliner lezat dari tana Luwu

Lembata Tana Luwu

indah kampung halamanku: Tana Luwu

Sao' Lebbi'E

      

Teruntuk desaku nan permai; DESA BUNTU BARANA, KEC. SULI BARAT, KAB. LUWU